- Hubungan diplomatik AS-Israel retak karena Washington kecewa atas serangan udara Israel ke 30 depot bahan bakar Iran.
- Pejabat Gedung Putih khawatir serangan ke fasilitas minyak memicu kenaikan harga energi global dan bumerang politik.
- Iran mengancam balasan terhadap serangan infrastruktur energi, memprediksi harga minyak dunia bisa mencapai $200 per barel.
Suara.com - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mengalami keretakan pertama sejak dimulainya konflik.
Mengutip laporan Axios dari sumber internal, Washington menyatakan kekecewaan mendalam atas skala serangan udara Israel yang menghantam puluhan depot bahan bakar di seluruh wilayah Iran pada akhir pekan lalu.
Meskipun Israel telah memberikan notifikasi kepada militer AS sebelum operasi dimulai, pejabat Gedung Putih mengaku terkejut dengan cakupan serangan yang meluas. Tercatat, sekitar 30 depot bahan bakar menjadi sasaran pada Sabtu (7/3/2026).
Akibat serangan tersebut, kebakaran hebat melanda ibu kota Teheran. Asap hitam pekat dilaporkan membubung tinggi di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Militer Israel berkukuh bahwa fasilitas tersebut merupakan jalur suplai vital bagi unit militer Iran dan pelanggan pemerintah lainnya.
Kekhawatiran Ekonomi dan Politik Donald Trump
Sikap skeptis muncul langsung dari lingkaran dalam Presiden AS, Donald Trump. Penasihat kepresidenan mengungkapkan bahwa Trump sangat tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak karena dampak ekonominya yang sensitif.
"Presiden tidak menyukai serangan pada fasilitas minyak. Dia ingin menyelamatkan minyak, bukan membakarnya. Kejadian seperti ini mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin," ujar salah satu penasihat Trump, dikutip via Anadolu.
Pejabat senior AS lainnya memperingatkan bahwa menghancurkan infrastruktur sipil Iran dapat menjadi bumerang strategis.
Baca Juga: Anggota DPR Kecam Insiden Kapal Musaffah 2 di Selat Hormuz yang Sebabkan 3 WNI Hilang
Selain memicu simpati publik Iran terhadap kepemimpinan mereka, rekaman kebakaran hebat di depot bahan bakar dapat mengguncang pasar energi global secara psikologis.
Ancaman Balasan: Minyak Bisa Tembus $200
Respons keras datang dari Teheran. Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut, mereka akan melakukan serangan balasan serupa di seluruh kawasan.
Iran mengancam akan menyasar infrastruktur energi regional yang selama ini mereka hindari. Jika hal itu terjadi, Teheran memprediksi harga minyak dunia bisa meroket hingga $200 per barel. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menegaskan bahwa balasan akan dilakukan "tanpa penundaan."
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak saat itu, Iran membalas dengan rentetan rudal dan drone yang menyasar Israel, Irak, Yordania, hingga negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer Amerika Serikat. Konflik yang semula terlokalisasi kini mengancam stabilitas ekonomi dunia melalui ancaman krisis energi yang masif.