- Harga minyak mentah Brent turun ke US$109 per barel setelah Presiden AS menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
- Penundaan serangan tersebut dilakukan atas permintaan para pemimpin negara Arab di kawasan Teluk selama proses negosiasi berlangsung.
- Konflik geopolitik memicu kenaikan imbal hasil obligasi global, ancaman inflasi, serta lonjakan biaya operasional pada sektor penerbangan dunia.
Suara.com - Grafik harga minyak mentah dunia ditutup melandai pada perdagangan hari Senin waktu setempat. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan keputusan untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari Selasa.
Penundaan tersebut dilakukan atas permohonan langsung dari para pemimpin negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Minyak mentah standar internasional, Brent, langsung merosot dari level US$112 per barel ke posisi US$109 per barel segera setelah pernyataan Trump diunggah melalui platform media sosial Truth Social.
Meski demikian, harga tersebut tetap tinggi.
Sebelum pengumuman tersebut keluar, pergerakan harga minyak sepanjang hari Senin sempat bergejolak hebat. Pasar energi global terus menunjukkan volatilitas tinggi sejak Iran menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas serangan udara AS dan Israel yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Jalur sempit ini merupakan rute krusial yang dilewati oleh hampir seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Arah pergerakan harga minyak mentah belakangan ini sangat sensitif terhadap sinyal kemajuan ataupun kebuntuan dari negosiasi damai untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pada awal perdagangan Senin, harga minyak sempat melonjak menyusul unggahan Trump yang memperingatkan Teheran agar segera mengambil tindakan.
Namun, sentimen pasar berbalik arah setelah muncul laporan dari salah satu kantor berita Iran yang menyebutkan bahwa AS telah menyetujui pelonggaran sanksi sementara terhadap ekspor minyak mentah Iran selama proses diplomasi berlangsung.
Melalui unggahan berikutnya di Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi serius tengah berjalan. Ia mengungkapkan bahwa para pemimpin dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah memintanya untuk menangguhkan operasi militer.
Trump menyatakan dirinya mendapat laporan bahwa sebuah kesepakatan yang "sangat bisa diterima" oleh AS akan segera tercapai, dengan target utama memastikan tidak ada senjata nuklir bagi Iran. Kendati demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras.
"Militer AS akan tetap bersiap untuk melakukan serangan berskala penuh dan besar-besaran terhadap Iran dalam sekejap, jika kesepakatan yang dapat diterima gagal tercapai," tegas Trump.
Hingga saat ini, pihak otoritas Iran belum memberikan respons publik terkait pernyataan terbaru tersebut.
Efek Domino: Tekanan pada Obligasi Negara dan Industri Penerbangan
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah ini tidak hanya mengguncang sektor komoditas energi, melainkan juga menekan pasar keuangan global dengan menaikkan biaya pinjaman pemerintah (bond yields).
Dikutip BBC, respon para pelaku pasar adalah lonjakan harga energi yang akan memicu inflasi tinggi, sehingga memaksa bank-bank sentral di berbagai negara untuk kembali mengerek suku bunga acuan.