Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.665.000
IHSG 6.094,941
LQ45 616,399
Srikehati 311,257
JII 380,793
USD/IDR 17.668

Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar

Dythia Novianty | Rina Anggraeni | Suara.com

Jum'at, 22 Mei 2026 | 07:22 WIB
Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar
Ilustrasi perang di Timur Tengah, sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]
  • Perang di Timur Tengah memicu gejolak global yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia serta peningkatan inflasi pada tahun 2026.
  • Bank Indonesia menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat serta kenaikan imbal hasil obligasi memicu pelarian modal asing.
  • Ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026 yang ditopang kuat oleh permintaan domestik.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia.

Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kondisi ini juga berdampak pada terganggunya produksi, distribusi, serta rantai pasok perdagangan antarnegara yang mendorong kenaikan harga berbagai komoditas dunia.

"Situasi tersebut menjadi perhatian Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi dunia, " katanya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (22/5/2026).

Menurut Perry Warjiyo, prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan melambat menjadi sebesar 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat hingga sekitar 4,3 persen.

Kebijakan moneter global pun diperkirakan semakin ketat seiring sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga acuannya.

Bank Indonesia menilai suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan belum akan turun hingga akhir 2026 dan berpotensi kembali naik pada 2027 karena inflasi AS masih tinggi.

(Kiri-Kanan) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi dalam acara Sosialisasi Tata Kelola Ekspor SDA Strategis dan Implementasi Peraturan Pemerintah tentang DHE yang digelar di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
(Kiri-Kanan) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi. [Suara.com/Dicky Prastya]

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menjadi 4,66 persen dan tenor 2 tahun sebesar 4,11 persen per 19 Mei 2026.

"Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS, "jelasnya.

Selain itu, kondisi global yang semakin menantang mengharuskan adanya penguatan respons kebijakan serta sinergi antara fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga positif.

Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5,39 persen secara tahunan pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Kinerja tersebut ditopang kuat oleh permintaan domestik.

Konsumsi rumah tangga meningkat seiring naiknya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan dampak positif stimulus pemerintah.

Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi didorong realisasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta peningkatan belanja pegawai melalui gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR).

Investasi, khususnya investasi bangunan, juga mengalami peningkatan yang dipengaruhi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Namun, ekspor tercatat menurun akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada level yang baik melalui optimalisasi belanja pemerintah yang bersinergi dengan bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran guna mendukung ekonomi digital serta keuangan inklusif.

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen di tengah tantangan ekonomi global yang masih tinggi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Jebol Rp17.700, Dasco Batal Sambangi BI di Tengah Kepanikan Pasar

Rupiah Jebol Rp17.700, Dasco Batal Sambangi BI di Tengah Kepanikan Pasar

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:34 WIB

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:45 WIB

Harga Minyak Dunia Jatuh Usai Trump Buka Ruang Negosiasi dengan Iran

Harga Minyak Dunia Jatuh Usai Trump Buka Ruang Negosiasi dengan Iran

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 08:57 WIB

Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 08:18 WIB

Wall Street Ditutup Bervariasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Wall Street Ditutup Bervariasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 07:55 WIB

Rupiah Terkapar Lemah, Bos BI: Harus Yakin Tuhan yang Maha Kuasa Bersama Kita

Rupiah Terkapar Lemah, Bos BI: Harus Yakin Tuhan yang Maha Kuasa Bersama Kita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 17:46 WIB

Terkini

Moodys: Kontrol Ekspor Tambang oleh SDI Bikin Indonesia Ditinggal Investor

Moodys: Kontrol Ekspor Tambang oleh SDI Bikin Indonesia Ditinggal Investor

Bisnis | Jum'at, 22 Mei 2026 | 07:11 WIB

Operasi CANTVR Dihentikan, Diduga Tawarkan Investasi Ilegal

Operasi CANTVR Dihentikan, Diduga Tawarkan Investasi Ilegal

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 23:33 WIB

Produk Ekspor Indonesia Bisa Laku di Karena Rupiah Melemah, Tapi Ada Syaratnya

Produk Ekspor Indonesia Bisa Laku di Karena Rupiah Melemah, Tapi Ada Syaratnya

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 23:22 WIB

Rupiah yang Memble Jadi Tantangan Industri Logistik, Ini Strategi SiCepat Ekspres

Rupiah yang Memble Jadi Tantangan Industri Logistik, Ini Strategi SiCepat Ekspres

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 23:14 WIB

Panasonic GOBEL Hadirkan ART with HEART: Pamerkan 70 Karya Seniman Difabel dan Senior

Panasonic GOBEL Hadirkan ART with HEART: Pamerkan 70 Karya Seniman Difabel dan Senior

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 22:18 WIB

Danantara Minta Pengusaha Tenang, Kontrak Ekspor Tak Diutak-atik

Danantara Minta Pengusaha Tenang, Kontrak Ekspor Tak Diutak-atik

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:24 WIB

IHSG Rontok Gegara Danantara Sumberdaya? Ini Jawaban Pandu Sjahrir

IHSG Rontok Gegara Danantara Sumberdaya? Ini Jawaban Pandu Sjahrir

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:07 WIB

Emiten CRSN Bidik Pendapatan Naik 22%, Begini Strateginya

Emiten CRSN Bidik Pendapatan Naik 22%, Begini Strateginya

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 19:49 WIB

Kemenko Perekonomian Bidik Sektor Digital demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Kemenko Perekonomian Bidik Sektor Digital demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 19:34 WIB

Emiten Grup Djarum SUPR Lebih Pilih Cabut dari Bursa Ketimbang Free Float

Emiten Grup Djarum SUPR Lebih Pilih Cabut dari Bursa Ketimbang Free Float

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 19:11 WIB