-
Negosiasi damai AS-Iran menemui jalan buntu akibat sengketa penyerahan uranium yang diperkaya Teheran.
-
Marco Rubio mengklaim operasi militer AS sukses besar meski Iran baru saja menyerang Kuwait.
-
Iran menuntut pencairan aset sebesar US$12 miliar sebagai syarat pelepasan dokumen nuklir mereka.
Suara.com - Kebuntuan diplomatik melanda perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran akibat perselisihan sengit mengenai kepemilikan uranium yang diperkaya. Teheran secara tegas menolak tuntutan Washington untuk menyerahkan material sensitif tersebut sebelum sanksi ekonomi mereka dicabut.
Pemerintah AS mengajukan tiga proposal krusial, termasuk pembatasan total aktivitas nuklir dan pengakhiran blokade Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional tersebut menjadi kartu AS bagi Iran untuk menekan sekutu Barat di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Al Arabiya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan meski persetujuan akhir belum tercapai. Titik paling krusial yang mengganjal kesepakatan berada pada status kepemilikan bahan baku pembuat bom nuklir tersebut.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/82282-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
"Saya pikir sekarang, dalam beberapa dokumen yang telah dipertukarkan bolak-balik, hal itu telah dibahas dengan jelas, tetapi kami masih belum mendapatkan persetujuan akhir dari sistem mereka hingga pagi ini," kata Rubio kepada Komite Urusan Luar Negeri DPR AS.
Di sisi lain, Teheran bersikap keras tidak akan melimpahkan kendali nuklir mereka sebelum hak ekonominya dipulihkan. Blokade Selat Hormuz juga tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan terakhir melawan tekanan asing.
Ketegangan makin rumit setelah militer Iran meluncurkan serangan balasan yang menghantam infrastruktur penerbangan sipil di negara tetangga. Rudal Teheran menyasar bandara Kuwait hingga menimbulkan korban jiwa dan puluhan warga terluka.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/53634-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Kendati situasi di lapangan masih membara, Washington secara sepihak menyatakan fase operasi militer skala besar mereka telah selesai. AS menilai kapabilitas tempur musuhnya sudah lumpuh total akibat serangan udara yang masif.
"Kami tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan di dalam Iran untuk melemahkan militer mereka, karena Epic Fury telah berakhir," kata Rubio kepada panel tersebut, menegaskan bahwa AS telah meraih kemenangan.
Pihak Pentagon merasa target strategis mereka untuk melucuti kekuatan ofensif pertahanan Iran telah terpenuhi secara masif. Operasi tersebut diklaim berhasil mereduksi secara signifikan persenjataan jarak jauh lawan.
"Kami mendefinisikan kemenangan (AS) sebagai penghancuran basis industri pertahanan mereka, pengurangan signifikan jumlah peluncur rudal yang mereka miliki, pengurangan signifikan persediaan drone mereka," kata Rubio.
"Dan kami mencapai semua itu, selain menghancurkan apa yang tersisa dari angkatan udara mereka dan melenyapkan seluruh angkatan laut konvensional mereka."
Pihak Teheran menolak tunduk pada tekanan psikologis dan klaim sepihak yang dilontarkan oleh pemerintahan Donald Trump. Mereka menuntut kompensasi finansial berupa pencairan dana belasan miliar dolar yang dibekukan di bank luar negeri.
Negara Timur Tengah ini juga membantah narasi bahwa fasilitas pemrosesan uranium mereka akan dihancurkan secara total. Bagi Iran, kedaulatan teknologi nuklir merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar dalam meja diplomasi.
Krisis geopolitik ini berakar dari serangan mendadak yang dilancarkan koalisi AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Agresi militer tersebut memicu efek domino yang merusak stabilitas keamanan serta ekonomi di seluruh kawasan Teluk.
Dampak paling nyata dirasakan global melalui penutupan Selat Hormuz yang menghambat distribusi pasokan minyak mentah dunia. Blokade ini menjadi senjata ekonomi Iran untuk membalas blokade finansial yang diterapkan oleh Amerika Serikat.