- Seorang siswi di Kabupaten Karo mengalami dugaan keracunan program MBG yang memicu kejang dan jalani EEG pada September 2026.
- Dosen UMY Wahyu Wihartono menyatakan intoksikasi pangan dapat menghasilkan neurotoksin yang mengganggu fungsi kognitif dan sel otak manusia.
- Tenaga medis wajib memprioritaskan penanganan darurat pada sistem saraf pusat selain mengatasi gejala pencernaan pasien keracunan makanan.
Suara.com - Kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa seorang siswi berusia 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, membuka tabir risiko serius yang melampaui masalah pencernaan.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyu Wihartono, menegaskan bahaya laten neurotoksin dalam kasus intoksikasi pangan.
"Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat," kata Wahyu pada Kamis (10/9/2026).
Penanganan kasus keracunan massal dinilai tidak boleh lagi hanya berfokus pada gejala pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Gejala fatal yang melibatkan penyerangan sistem saraf pusat wajib menjadi prioritas penanganan darurat.
Indikasi seperti gangguan kesadaran, kejang, kesulitan berbicara, perubahan perilaku, kelemahan anggota tubuh, hingga penurunan daya ingat harus direspons sebagai sinyal bahaya bagi tenaga medis untuk segera menggelar pemeriksaan neurologis mendalam.
"Jika muncul gejala neurologis, pasien perlu segera mendapatkan penilaian medis secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui penyebab gangguan dan menentukan penanganan yang sesuai," tegasnya.
Kendati demikian, Wahyu menekankan bahwa penjelasan tentang intoksikasi tersebut merupakan gambaran medis secara umum. Dokter masih harus menentukan penyebab gangguan yang dialami oleh seorang pasien secara menyeluruh.
Mulai dari mempertimbangkan jenis toksin, tingkat paparan, gejala klinis, riwayat penyakit, serta hasil pemeriksaan penunjang.
Menurutnya, gangguan neurologis setelah keracunan tidak selalu disebabkan oleh toksin secara langsung. Kondisi lain yang menyertai, seperti kekurangan oksigen atau hipoksia, gangguan metabolik, dan kejang berkepanjangan, juga dapat memengaruhi fungsi sel saraf.
Dalam kondisi tertentu, stimulasi neurotransmiter secara berlebihan dapat memicu masuknya ion kalsium dalam jumlah berlebih ke dalam sel. Rangkaian proses tersebut berpotensi mengaktifkan enzim yang dapat merusak sel saraf.
![Siswa-siswi SMPN 1 Gembong dan MTSN 3 Pati dirawat di RSUD Soewondo usai meracunan MBG. [Suara.com/Singgih Tri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/09/87868-keracunan-mbg-pati.jpg)
"Kerusakan sel otak tidak selalu terjadi akibat toksin secara langsung. Ada faktor-faktor lain yang dapat ikut berperan. Karena itu, mekanisme dan penyebab gangguan pada setiap pasien harus diperiksa secara menyeluruh," ujarnya.
Lebih dari itu, kasus gangguan ingatan usai diduga keracunan menu MBG tersebut tetap perlu mendapat perhatian serius. Dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum menentukan penyebab, tingkat gangguan, dan penanganan yang tepat.
Dalam kasus di Karo, proses pemeriksaan medis masih berlangsung. Korban dilaporkan sempat mengalami kejang dan telah menjalani elektroensefalografi (EEG) di RSUP H. Adam Malik Medan pada Senin (7/9/2026) kemarin.
Adapun EEG merupakan pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik otak. Pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter mengevaluasi kejang dan mendeteksi pola aktivitas listrik yang tidak normal.
Namun, hasil EEG tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab gangguan ingatan maupun memastikan hubungannya dengan keracunan makanan.