- Harga minyak dunia turun pada 4 Juni 2026 akibat kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
- Parlemen AS menyetujui resolusi untuk membatasi wewenang perang Presiden Trump dalam konflik melawan pihak Iran.
- Cadangan minyak mentah AS menyusut tajam sebanyak 8 juta barel hingga akhir pekan tanggal 29 Mei.
Suara.com - Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, setelah Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata.
Langkah ini membuka harapan akan adanya kesepakatan damai yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dengan Iran.
Selain sentimen perdamaian di Timur Tengah, penurunan harga juga dipicu oleh langkah parlemen AS yang dipimpin Partai Republik yang menyetujui resolusi untuk membatasi wewenang perang Presiden Donald Trump.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 67 sen atau 0,69 persen ke level 97,14 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 62 sen atau 0,65 persen ke level 95,40 dolar AS per barel.
Padahal pada sesi perdagangan Rabu kemarin, kedua harga patokan minyak tersebut sempat melonjak sekitar 2 persen akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, menyusul serangan rudal Iran ke Kuwait dan serangan balasan militer AS di dekat Selat Hormuz.
DPR AS yang dikuasai oleh Partai Republik menyetujui resolusi untuk menghalangi Presiden Trump melanjutkan perang melawan Iran.

Kendati demikian, agar aturan ini resmi berlaku, resolusi tersebut masih membutuhkan persetujuan Senat dan dukungan mayoritas dua pertiga suara di kedua lembaga legislatif guna membatalkan veto yang hampir pasti akan diajukan oleh Trump.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengisyaratkan adanya potensi kemajuan dalam negosiasi dengan Iran yang kemungkinan terjadi pada akhir pekan ini.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, membenarkan bahwa komunikasi antara Teheran dan Washington masih terus berjalan.
Meski belum ada kemajuan signifikan dalam negosiasi tersebut, Araqchi menyebut kedua belah pihak saat ini tengah mempelajari draf dokumen yang telah saling dipertukarkan.
Dari sisi pasokan, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan cadangan minyak mentah AS menyusut tajam hingga 8 juta barel menjadi 433,7 million barel untuk pekan yang berakhir pada 29 Mei lalu.
Penurunan stok ini jauh lebih besar dari perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penurunan hanya sebesar 4 juta barel.
Meskipun saat ini harga minyak sedang melandai, lembaga analisis Haitong Futures dalam catatannya menyebutkan bahwa harga minyak berpotensi kembali merangkak naik menuju level tertinggi.
Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang terus berlanjut di tengah merosotnya inventaris minyak mentah global secara cepat.