- Bursa Efek Indonesia meluncurkan fitur transaksi Repo SBSN melalui sistem SPPA pada Selasa, 7 Juli 2026.
- Inovasi ini bertujuan meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBSN serta memperkuat efisiensi infrastruktur perdagangan keuangan nasional Indonesia.
- Layanan baru tersebut menyediakan alternatif pengelolaan pendanaan fleksibel bagi berbagai institusi keuangan melalui sistem terintegrasi.

BEI menilai, meningkatnya aktivitas transaksi Repo akan memperkuat proses pembentukan harga (price discovery), memperlancar distribusi likuiditas antar pelaku pasar, serta meningkatkan perdagangan instrumen yang menjadi underlying.
Dengan demikian, instrumen SBSN diharapkan semakin aktif diperdagangkan sehingga pasar sekundernya menjadi lebih likuid.
Iding menambahkan, pengembangan SPPA akan terus dilakukan melalui kolaborasi dengan regulator, otoritas, asosiasi, dan seluruh pelaku pasar sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pasar keuangan nasional.
"Kehadiran fitur Repo dengan Underlying SBSN merupakan salah satu langkah BEI untuk terus memperluas pemanfaatan SPPA sebagai infrastruktur perdagangan pasar keuangan yang terintegrasi," kata Iding.
Ke depan, dia menambahkan, BEI akan terus mengembangkan SPPA agar mampu mengakomodasi kebutuhan pasar yang semakin berkembang melalui kolaborasi dengan regulator, otoritas, asosiasi, dan seluruh pelaku pasar.
"Kami optimistis SPPA dapat semakin memperkuat transparansi, efisiensi, dan likuiditas pasar keuangan nasional, sekaligus mendukung pendalaman pasar surat utang dan pasar uang di Indonesia," ucapnya.
Fitur Repo SBSN juga semakin memperkuat posisi SPPA sebagai platform perdagangan elektronik yang mendukung proses transaksi secara straight-through processing (STP), mulai dari pelaksanaan transaksi, pengelolaan risiko, pelaporan, hingga proses pascatransaksi.
Dengan dukungan teknologi yang terintegrasi, pelaku pasar diharapkan dapat bertransaksi secara lebih cepat, aman, efisien, dan terdokumentasi dengan baik.
Melalui inovasi tersebut, BEI, SPPA, Repo SBSN, likuiditas pasar sukuk negara, dan pendalaman pasar keuangan Indonesia diharapkan semakin berkembang.

Kehadiran fitur transaksi Repo dengan underlying SBSN menjadi salah satu katalis penting untuk meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBSN sekaligus memperkuat daya saing dan efisiensi ekosistem pasar keuangan nasional.