Saksi Bom Bali I: Cerita Awal Mula Modal untuk Investigasi Polisi

Siswanto Suara.Com
Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:37 WIB
Saksi Bom Bali I: Cerita Awal Mula Modal untuk Investigasi Polisi
Kerabat korban bom Bali memasang bendera Australia berisi foto korban, pada momen 12 tahun tragedi Bom Bali I di Monumen Bom Bali, Legian, Kuta, Bali, Minggu (12/10/2014). [Antara/Nyoman Budhiana]

Suara.com - Hermawan Sulistyo menjadi salah satu saksi ledakan bom yang kemudian dikenal sebagai Bom Bali I pada 2002. Ledakan tersebut menewaskan 204 orang, termasuk dua pelaku.

Hermawan seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bidang politik dan keamanan negara. Dia ikut menjadi saksi ketika anggota polisi yang membantu menangani kasus, tidak punya uang untuk membeli pulsa.

Hermawan berada di sebuah kamar yang berjarak hanya 200 meter dari titik ledakan.

Hermawan berada di Pulau Bali untuk melakukan sebuah riset terkait kondisi polisi setelah lepas dari institusi TNI.

Sebenarnya hari itu dia seharusnya sudah meninggalkan Bali dan pindah ke kota lain, tetapi mendadak dibatalkan.

Peristiwa itu pula yang kemudian mempengaruhi pemikiran Hermawan.

Sebelum Bom Bali I terjadi, dia berprinsip tidak akan mencampuri isu terorisme.

"Nah, jadi seluruh ilmu yang 20 tahun saya pelajari itu kemudian saya putuskan ini nggak bisa ini pertaruhannya bukan hanya bangsa, tapi kemanusiaan. Karena kalau salah penanganan, Indonesia ambruk pasti," kata dia.

Sebelum ada Bom Bali I, Polri belum memiliki Detasemen Khusus 88 Antiteror. Tim yang menangani bom hanya ada di Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

Baca Juga: Ledakan Bom di Masjid Afghanistan, Seorang Pemimpin Taliban Tewas

Polri juga belum memiliki pengalaman memadai dalam menangani ledakan bom dan juga tidak memiliki anggaran memadai.

Banyak anggota polisi yang kemudian datang ke Bali untuk membantu menangani secara sukarela.

Sampai pada akhirnya, kapolri mengeluarkan surat keputusan terkait tim yang menangani kasus bom.

Tetapi polisi tetap kesulitan di lapangan karena tidak memiliki anggaran memadai.

Hermawan menggambarkan kesulitan yang dihadapi anggota polisi. Mereka hanya mampu menggunakan ponsel dua hari sekali karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli pulsa.

"Sementara sepeda motor tidak bisa jalan setelah dua hari juga karena nggak ada bensin," katanya.

Hermawan kemudian berinisiatif meminta bantuan suatu perusahaan untuk memberikan anggaran investigasi dan berhasil mendapatkan dana sekitar Rp100 juta.

Ia juga mencoba meminta pimpinan salah satu perusahaan telekomunikasi untuk menyumbangkan pulsa bagi tim investigasi.

"Itulah awal mula modal untuk investigasi polisi." [rangkuman laporan Suara.com]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI