Perubahan Iklim Perburuk Kondisi Alam dan Kemiskinan di Afghanistan

Siswanto, Deutsche Welle

Jum'at, 24 Desember 2021 | 11:41 WIB
Perubahan Iklim Perburuk Kondisi Alam dan Kemiskinan di Afghanistan
DW

Suara.com - Dalam beberapa dekade terakhir perubahan iklim telah mengubah kondisi alam di Afghanistan, kata penduduk setempat, sehingga membuat kawasan tandus dan masyarakat sekitar berjuang lebih keras untuk bertahan hidup.

Banyak yang telah menyelamatkan diri ke negara tetangga Iran atau hidup dalam kemiskinan di kamp-kamp pengungsi di Afghanistan karena kekeringan yang berulang kali terjadi.

"Saya ingat dari masa kecil saya … ada banyak salju di musim dingin, di musim semi kami banyak hujan,” kata Abdul Ghani, 53, seorang pemimpin masyarakat setempat di desa Sang-e- Atash, di provinsi Badghis yang dilanda bencana.

"Namun, sejak beberapa tahun lalu ada kekeringan, tidak ada salju, apalagi hujan. Bahkan tidak mungkin untuk mendapatkan satu mangkuk air dari pipa saluran air hujan untuk digunakan,” katanya, saat dia mengamati organisasi Bulan Sabit Merah membagikan persediaan makanan darurat musim dingin kepada para petani yang panennya benar-benar gagal.

Tahun kedua kekeringan yang parah melanda Afganistan telah secara dramatis memperburuk situasi yang sudah putus asa di negara itu.

Ditambah lagi dengan perang selama empat dekade, warga Afganistan juga harus menghadapi pandemi virus corona dan krisis ekonomi menyusul pembekuan aset internasional setelah Taliban merebut kekuasaan pada pertengahan Agustus.

Ancaman bencana kemanusiaan

Jutaan orang tidak dapat menafkahi diri mereka sendiri. Kelompok-kelompok bantuan memperingatkan akan meningkatnya krisis kekurangan gizi dan bencana kemanusiaan.

Bagi banyak keluarga di daerah Sang-e-Atash, bantuan Bulan Sabit Merah adalah satu-satunya penyelamat mereka saat musim dingin.

baca juga

Kepala Organisasi Bulan Sabit Merah untuk Afganistan barat, Mustafa Nabikhil, mengatakan 558 keluarga telah menerima bantuan makanan selama tiga hari, berupa tepung, beras, kacang-kacangan, minyak goreng, gula, garam, teh, dan biskuit berkalori tinggi yang diperkaya vitamin.

Petani Badghis sangat rentan karena wilayah tersebut tidak memiliki sistem irigasi, membuat mereka bergantung pada cuaca, kata Nabikhil.

Jika hujan, mereka akan makan dan sebaliknya. "Tidak ada solusi, kami hancurkan saja,” kata Ghani.

"Kami tidak bisa pergi ke mana pun, ke negara asing. Kami tidak punya uang. Kami tidak punya apa-apa. Pada akhirnya kami harus menggali kuburan kita dan mati.”

Necephor Mghendi, Kepala Delegasi Afghanistan dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, mengatakan kekeringan menyebabkan "kekurangan pangan yang mengkhawatirkan, dengan sekitar 22,8 juta orang — lebih dari 55% populasi Afganistan — mengalami tingkat kekurangan pangan akut yang tinggi.”

Kekeringan parah telah mempengaruhi lebih dari 60% provinsi di negara itu, katanya, "tetapi tidak ada satu pun provinsi yang tidak terpengaruh, karena beberapa menghadapi kekeringan serius atau sedang.”

"Jika tindakan tidak segera diambil, akan terjadi bencana kemanusiaan,” katanya.

"Ini bisa dibilang krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.”

"Kami tidak punya apa-apa,” kata Juma Gul, 45, salah satu dari banyak orang yang terlantar akibat kekeringan.

Dia duduk di klinik kesehatan keliling Bulan Sabit Merah di luar ibu kota provinsi Badghis, Qala-e-Now.

Dengan sembilan anak dan seorang suami yang tidak dapat mencari pekerjaan, keluarganya bertahan hidup dari pinjaman dari pemilik toko.

"Terkadang kami memiliki makanan dan terkadang tidak. Kami hanya makan roti kering dan teh hijau. Kami tidak bisa membeli tepung atau beras, itu terlalu mahal.”

Di desa Hachka di luar Qala-e-Now, petani Abdul Haqim mengamati ladangnya yang tandus.

Angin sedingin es menyapu celah-celah tanah yang retak. Dulu menanam gandum dan menghidupi keluarganya.

Sekarang, tidak ada apa-apa. "Tidak ada hujan, hanya kekeringan,” katanya. Banyak orang di desanya, termasuk tiga putranya yang sudah dewasa, telah pergi ke Iran. Dan dia mempertimbangkan untuk mengirim yang keempat, meskipun bocah itu baru berusia 12 tahun. Itulah satu-satunya cara keluarganya dapat bertahan hidup.

"Temanku, orang-orang meninggalkan wilayah ini. Beberapa orang bahkan pergi meninggalkan anak-anak mereka,” katanya.

Pandangan para ahli

Para ahli memperkirakan perubahan iklim akan membuat kekeringan semakin sering dan parah. Mereka telah memperingatkan hal ini sejak bertahun-tahun.

"Perubahan iklim di Afghanistan bukanlah risiko masa depan 'potensial' yang tidak pasti, tetapi ancaman yang sangat nyata saat ini - yang dampaknya telah dirasakan oleh jutaan petani dan penggembala di seluruh negeri,” kata laporan tahun 2016 yang dikeluarkan Program Pangan Dunia, Program Lingkungan PBB dan Badan Perlindungan Lingkungan Nasional Afghanistan.

Kekeringan saat ini adalah yang terburuk dalam beberapa dekade.

"Pengaruh perubahan iklim dan pemanasan global di Afghanistan sangat jelas,” kata Assem Mayar, pakar pengelolaan sumber daya air dan kandidat PhD di Universitas Stuttgart.

Selama dua dekade terakhir, 14% gletser negara itu telah mencair, katanya, sementara frekuensi kekeringan meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan dekade terakhir abad ke-20.

Frekuensi dan intensitas banjir juga meningkat, sementara telah terjadi pergeseran dari salju di awal musim dingin menjadi hujan di musim semi.

Ini mengganggu keseimbangan air di negara itu karena salju, pada dasarnya, bertahan lebih lama daripada air hujan, yang keluar dari negara itu dalam 2-14 hari, jelas Mayar.

Afghanistan juga kekurangan tempat penampungan air, yang 10 kali lebih kecil dari negara-negara tetangga. Pemerintah sebelumnya menyusun strategi manajemen risiko kekeringan, kata Mayar, tetapi dengan pergantian pemerintahan pada Agustus lalu, semuanya terhenti.

Menanti kebijakan pemerintah Afghanistan Wakil Menteri Air Mujib ur Rahman Omar mengatakan pada konferensi pers Rabu (22/12) bahwa pemerintah memiliki kebijakan untuk mengelola kekeringan, termasuk proyek untuk membangun saluran irigasi dan bendungan di provinsi Badghis.

"Rekan-rekan teknis dan para ahli sibuk mengurus hal ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa semua proyek tergantung pada ketersediaan anggaran.

Wakil Gubernur baru Badghis, pejuang pasukan khusus Taliban Mohibullah Asad, sangat menyadari beratnya masalah ini.

"Kekeringan terlihat jelas di seluruh Afghanistan dan memiliki dampak negatif yang lebih besar di provinsi Badghis,” katanya baru-baru ini kepada AP di gedung gubernur regional di Qala-e-Now.

Meskipun kekeringan telah menjadi masalah selama bertahun-tahun, katanya, tahun ini sangat parah, mempengaruhi sekitar 80-85% penduduk setempat.

Mayar, pakar pengelolaan air, mengatakan investasi kemanusiaan harus fokus pada proyek air skala kecil dan menengah untuk mengurangi dampak kekeringan.

"Meski adanya sanksi, masyarakat internasional tidak boleh membatasi dana terkait iklim dan bencana alam katanya. "Karena perubahan iklim terus berdampak pada Afganistan.” ha/yf (AP)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menko PMK Sugiono Apresiasi Kinerja Satgas PRR dan Tekankan Mitigasi Perubahan Iklim

Menko PMK Sugiono Apresiasi Kinerja Satgas PRR dan Tekankan Mitigasi Perubahan Iklim

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 20:18 WIB

AI hingga Perubahan Iklim Masuk Agenda Prioritas HAM Nasional 2026

AI hingga Perubahan Iklim Masuk Agenda Prioritas HAM Nasional 2026

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 19:09 WIB

Perubahan Iklim Ancam Kehidupan, Generasi Muda Punya Peran Besar Selamatkan Masa Depan

Perubahan Iklim Ancam Kehidupan, Generasi Muda Punya Peran Besar Selamatkan Masa Depan

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:18 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Teknologi Mikroalga Diklaim Serap Karbon Setara 110 Pohon, Bagaimana Cara Kerjanya?

Teknologi Mikroalga Diklaim Serap Karbon Setara 110 Pohon, Bagaimana Cara Kerjanya?

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 14:14 WIB

Perubahan Iklim Bisa Bikin Penyakit yang Ditularkan Nyamuk Makin Sulit Dikendalikan

Perubahan Iklim Bisa Bikin Penyakit yang Ditularkan Nyamuk Makin Sulit Dikendalikan

Health | Kamis, 08 Oktober 2026 | 16:12 WIB

Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?

Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Studi Ungkap Emosi soal Perubahan Iklim Tak Otomatis Ubah Perilaku, Mengapa?

Studi Ungkap Emosi soal Perubahan Iklim Tak Otomatis Ubah Perilaku, Mengapa?

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:30 WIB

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:30 WIB

Terkini

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Catat Tanggalnya! Ini Hari Paling Beruntung Tiap Zodiak di Bulan November

Catat Tanggalnya! Ini Hari Paling Beruntung Tiap Zodiak di Bulan November

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

4 Minyak Perontok Bulu Ketiak, Aman untuk Kulit Sensitif dan Bebas Iritasi

4 Minyak Perontok Bulu Ketiak, Aman untuk Kulit Sensitif dan Bebas Iritasi

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

MA Putuskan Suket Ijazah Gibran Tak Sah, PKB Sebut Jadi Rujukan Utama Sikap Politik DPR

MA Putuskan Suket Ijazah Gibran Tak Sah, PKB Sebut Jadi Rujukan Utama Sikap Politik DPR

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min

Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Dari Uang Saku hingga Persoalan Sosial, Begini Cara Anak Belajar Mengambil Keputusan

Dari Uang Saku hingga Persoalan Sosial, Begini Cara Anak Belajar Mengambil Keputusan

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:05 WIB

Foto AI Prabowo Naik Whoosh Viral, Bos Humas KCIC Eva Chairunisa Tuai Sorotan

Foto AI Prabowo Naik Whoosh Viral, Bos Humas KCIC Eva Chairunisa Tuai Sorotan

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:02 WIB

Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual

Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:50 WIB

Intip Harga Innova Reborn Diesel Bekas: MPV 7-Seater Favorit Kini Setara Brio Baru

Intip Harga Innova Reborn Diesel Bekas: MPV 7-Seater Favorit Kini Setara Brio Baru

Otomotif | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:49 WIB

5 Sabun Cuci Muka Wardah NMF yang Cocok untuk Kulit Wajah Wanita Usia 50 Tahun ke Atas

5 Sabun Cuci Muka Wardah NMF yang Cocok untuk Kulit Wajah Wanita Usia 50 Tahun ke Atas

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:45 WIB

×