Menteri Maman: Masalah UMKM Bukan Modal, Tetapi Barang Impor China

Restu Fadilah Suara.Com
Jum'at, 27 Februari 2026 | 21:25 WIB
Menteri Maman: Masalah UMKM Bukan Modal, Tetapi Barang Impor China
Diskusi Media (DM FWUMKM) dengan tema Mengawal Momentum UMKM Naik Kelas di Tengah Rekor Penyaluran KUR di Smesco Startup Hub, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026). (Dok: Ist)

Suara.com - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menilai lambatnya pertumbuhan UMKM tidak dipicu oleh keterbatasan akses pembiayaan, melainkan karena kondisi pasar dalam negeri yang belum sehat. Selama dua dekade terakhir akses permodalan dan dukungan produksi terus diperkuat melalui berbagai program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelatihan, serta penyediaan fasilitas produksi. Meski demikian, pertumbuhan UMKM dinilai belum mengalami percepatan yang berarti.

Maman mengungkapkan, sejak program KUR bergulir pada 2007, total penyaluran kredit perbankan telah mencapai Rp8.149 triliun. Dari total tersebut, kredit yang disalurkan kepada sektor UMKM sebesar Rp1.580 triliun atau sekitar 19,4%, sementara kredit untuk sektor non-UMKM mencapai Rp6.569 triliun atau 80,6%.

Khusus pada 2025, realisasi penyaluran KUR tercatat sebesar Rp270 triliun kepada 4,58 juta debitur. Dari jumlah itu, sebanyak 2,75 juta merupakan debitur baru, sedangkan 1,54 juta lainnya telah mengalami peningkatan kelas usaha (graduasi).

Atas dasar itu, Maman menyebut, masalah utamanya, bukan terletak pada ketersediaan pembiayaan maupun akses pendampingan (inkubasi) bagi UMKM, melainkan pada akses pasar yang terganggu akibat membanjirnya produk impor. Kondisi tersebut membuat berbagai upaya peningkatan kapasitas UMKM yang telah diberikan pemerintah tidak dapat berjalan secara maksimal.

"Pasar Indonesia ini becek, kotor, dan jorok. Sebagus apapun mereka dibantu hari ini sehingga mereka bisa produksi tapi mereka nggak bisa jual barang. Pasar kita dipenuhi barang impor," kata Maman dalam Diskusi Media (DM FWUMKM) dengan tema Mengawal Momentum UMKM Naik Kelas di Tengah Rekor Penyaluran KUR di Smesco Startup Hub, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026).

Oleh karena itu, Maman menegaskan sudah saatnya permasalahan importasi yang begitu masif harus dilakukan pembatasan dengan melibatkan semua pihak.

Maman mendorong lahirnya kebijakan terpadu lintas kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, bersama pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan penataan dan sterilisasi pasar dalam negeri, sehingga produk lokal dapat kembali memperoleh ruang yang lebih luas.

Sementara itu Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menegaskan tantangan yang dihadapi UMKM di Indonesia tidak hanya terkait impor, tetapi juga masalah pembiayaan yang serius.

Menurutnya, permodalan menjadi kendala utama karena tingginya suku bunga perbankan dan persyaratan agunan yang memberatkan, sehingga banyak pelaku UMKM terpaksa menggunakan modal sendiri.

Baca Juga: Impor Cacah Pakaian dari AS Dibuka, Mendag: Bukan untuk Thrifting

“Pada 2015, penyaluran KUR baru mencapai 15 persen, dan meskipun angka ini belum rekor, secara makro penyaluran KUR dan pembiayaan non-KUR untuk UMKM justru mengalami penurunan, terutama pada periode Oktober hingga Desember,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Khusus untuk penyaluran KUR pada tahun 2025, Nailul menilai bahwa realiasinya bukanlah rekor tertinggi, karena pada 2022 penyaluran KUR sempat mencapai angka yang lebih tinggi. Meski begitu KUR diakui memberikan dampak positif bagi meningkatnya aktivitas ekonomi dan kredit di desa-desa dimana 72,3 persen desa di Indonesia sudah terlayani oleh KUR.

“Penyaluran KUR yang masih berat ke sektor perdagangan dan kurang ke industri menunjukkan adanya ketidakseimbangan. Ini berbeda dengan sektor pertokoan yang justru tumbuh tinggi,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero menyebut realisasi penyaluran KUR masih jauh dari harapan dan menimbulkan sejumlah masalah bagi pelaku UMKM di lapangan. Salah satu penyebab lambatnya penyerapan adalah ketatnya persyaratan administrasi, terutama soal agunan, meski aturan pemerintah menyatakan bahwa kredit di bawah Rp100 juta tidak memerlukan jaminan.

“Ketika administrasi dan laporan keuangan sudah beres, tapi kemudian ditanya sertifikatnya (agunan). Jadi sudah lah, bahasanya peraturan pemerintah di langit: 100 juta tanpa jaminan, tapi di lapangan tetap ditanya agunan,” ujar Edy.

Edy juga mengkritik sikap perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara), yang menurutnya belum sepenuhnya memberikan kemudahan sesuai regulasi. Ia menilai percepatan penyaluran lebih dibutuhkan ketimbang sekadar bunga murah.

“Kami butuh percepatan, bukan hanya interest murah. Kalau ada interest murah alhamdulillah, tapi Himbara maunya tidak ada kendala. Kalau memang tidak bisa memberikan kemudahan sesuai aturan, ya jujur saja,” tambahnya.

Dengan segala kerumitan dalam mengakses pembiayaan di perbankan, ia mendorong bahwa para pelaku UMKM tidak bisa terus bergantung pada kelonggaran perbankan. Ia juga meminta perbankan lebih jujur dan fleksibel terkait batasan kemampuan mereka dalam menyalurkan kredit tanpa jaminan. Ia mencontohkan, jika plafon tanpa kolateral tidak bisa diberikan penuh, bank seharusnya terbuka.

Ia juga mengingatkan bahwa kesulitan mengakses KUR membuat banyak UMKM akhirnya beralih ke lembaga fintech dan pinjaman online, yang bunganya jauh lebih tinggi.

“Kesulitan KUR membuat banyak UMKM ambil dari fintech atau pinjol. Semuanya diambil karena terdesak,” tegasnya.***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI