- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran sebagai respons atas penyerangan tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
- Pemerintah Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi penjualan minyak mentah setelah mencabut lisensi dagang milik negara Iran tersebut.
- Eskalasi konflik di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah global sebesar hampir dua persen pada perdagangan Rabu.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak naik hampir dua persen pada perdagangan Rabu pagi menyusul langkah militer Amerika Serikat (AS) yang melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.
Selain melancarkan serangan fisik, AS juga kembali memberlakukan sanksi terhadap penjualan minyak mentah negara tersebut.
Langkah tegas ini langsung memicu kekhawatiran global bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak kini berada di ambang kegagalan, yang berpotensi kembali mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan udara tersebut merupakan respons langsung atas tindakan Iran yang menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur maritim paling krusial bagi pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke pasar internasional.
Mengutip dari Reuters, akibat eskalasi tersebut, kontrak berjangka minyak Brent naik sebesar 1,38 dolar AS atau 1,9 persen menjadi 75,54 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merangkak naik ke posisi 71,81 dolar AS per barel.
Sehari sebelumnya, kedua tolok ukur harga minyak ini bahkan telah melonjak sekitar tiga persen setelah AS resmi mencabut lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran.
Kepala Riset di MST Marquee, Saul Kavonic, menilai bahwa konflik terbaru ini menjadi pengingat bagi pasar mengenai betapa rapuhnya keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Apa yang terjadi saat ini merupakan pengingat bagi pasar betapa rapuhnya jalur pelayaran melalui Selat tersebut," kata Kavonic.
Situasi ini membalikkan sentimen pasar yang sebelumnya memprediksi terjadinya banjir pasokan, sehingga memaksa para pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh harga minyak akan turun untuk segera mengamankan posisi mereka.
Kavonic menambahkan, jika ketegangan ini terus berlanjut hingga menyebabkan lalu lintas kapal di selat tersebut merosot di bawah separuh dari level sebelum perang, pembatasan pasokan yang terjadi dapat mendorong harga minyak ke level yang jauh lebih tinggi.
Padahal, setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata bulan lalu, harga minyak sempat merosot kembali ke level sebelum konflik.
Saat itu, para pedagang beramai-ramai mengambil posisi jual karena memproyeksikan akan ada gelombang besar pasokan minyak Timur Tengah yang kembali membanjiri pasar.
Namun, ekspektasi tersebut langsung buyar setelah insiden penyerangan kapal terjadi.
Meskipun Iran tidak mengaku bertanggung jawab, pemerintah Qatar secara terbuka menyalahkan Teheran atas serangan terhadap kapal tanker gas alam cair (LNG) mereka yang dihantam pesawat tanpa awak hingga menyebabkan kebakaran di ruang mesin.
Selain itu, sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi, yang diduga merupakan supertanker Wedyan, juga dilaporkan mengalami kerusakan misterius di lepas pantai Oman.

Rentetan insiden ini membangkitkan kembali kekhawatiran besar atas kelancaran arus kapal tanker di Selat Hormuz, yang secara historis mengangkut sekitar seperlima dari total pasokan energi global.
Saat ini, Iran mulai menegaskan kendalinya atas selat tersebut dengan memerintahkan kapal-kapal untuk menggunakan rute yang lebih dekat ke garis pantainya, alih-alih rute yang mendekati wilayah Oman.
Di sisi lain, Amerika Serikat bersikeras bahwa jalur perairan internasional tersebut harus tetap bebas diakses oleh semua pihak seperti sedia kala.
Kondisi ini semakin krusial mengingat banyak negara telah menguras cadangan minyak domestik mereka demi menutupi kekurangan pasokan sejak konflik dimulai.
Bahkan, data terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS kembali menyusut pada minggu lalu, melampaui prediksi para analis yang memperkirakan penurunan sekitar 2,4 juta barel.