Bagaimana Pemanasan Global Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem di Eropa?

Siswanto, Deutsche Welle

Sabtu, 13 Februari 2021 | 13:38 WIB
Bagaimana Pemanasan Global Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem di Eropa?
DW

Sejarah mencatat dari tahun 2010 hingga 2019 menjadi dekade terpanas.

Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kenaikan suhu Bumi, tetapi juga fenomena cuaca ekstrem.

Di sinilah pemanasan yang tidak proporsional di Kutub Utara berperan, kata Stefan Rahmstorf, kepala departemen penelitian Analisis Sistem Bumi di Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK).

Suhu di Kutub Utara telah meningkat lebih dari dua kali lebih cepat dari rata-rata kenaikan suhu global selama 40 tahun terakhir.

"Perubahan ini memengaruhi cuaca di Eropa."

Memanasnya kutub sangat kuat di musim dingin, kata Dörthe Handorf, yang meneliti fisika atmosfer di Institut Alfred Wegener dari Pusat Penelitian Kutub dan Laut Helmholtz (AWI).

"Seperti yang ditunjukkan oleh banyak penelitian, ini melemahkan jet stream."

Aliran angin mulai berubah, kata Handorf, yang dapat menyebabkan lebih banyak pelemahan yang memengaruhi suhu di Eropa.

Akankah perubahan iklim membuat musim dingin di Eropa lebih dingin?

Perubahan iklim tidak serta merta membuat musim dingin di Eropa menjadi lebih dingin karena hembusan udara dingin dari polar vortex terkadang lebih ringan daripada cuaca dingin saat ini.

Kutub Utara juga bukan satu-satunya bagian dunia di mana aliran udara berubah karena kenaikan suhu.

Pemanasan yang kuat di daerah subtropis juga memengaruhi jet stream, kata Handorf.

Sementara pemanasan di Kutub Utara cenderung mengarahkan jet stream ke selatan dan menyebabkan musim dingin di Eropa, pemanasan di daerah subtropis umumnya mengarahkan jet stream ke utara.

Jika demikian, kata dia, cuaca musim dingin di Eropa akan lebih sejuk. Pemodelan iklim masih belum dapat mengetahui tren pemanasan mana yang akan mendominasi di masa depan, tambahnya.

Apa penyebab turunnya salju lebat?

Salju terbentuk saat udara hangat dan lembab bertemu udara yang sangat dingin. Di atas dataran Eropa Barat, udaranya jarang cukup dingin untuk menimbulkan hujan salju yang telah menyelimuti kawasan tersebut di musim dingin saat ini.

Namun, pada kondisi sekarang ini, area udara bertekanan tinggi yang disebut Gisela membawa angin dingin Kutub Utara ke tengah Jerman, bertabrakan dengan dua area udara bertekanan rendah bernama Tristan dan Reinhard.

Saat mereka membawa udara laut yang hangat, kelembapan berubah menjadi salju.

Karena udara yang lebih hangat memiliki tingkat kelembaban yang lebih tinggi, peningkatan suhu berarti massa udara akan mengangkut lebih banyak air.

Kelembapan ini kemudian dapat berubah menjadi salju di tempat yang cukup dingin - biasanya di tempat yang lebih tinggi.

Hujan salju besar-besaran di Pegunungan Alpen pada musim dingin tahun 2019, misalnya, juga dipicu oleh massa udara yang sangat lembab dan hangat.

Saat itu, kata Peter Hoffmann, ahli meteorologi di PIK, lautan masih cukup hangat di musim dingin karena musim panas yang panjang dan terik - sehingga banyak air yang menguap.

Aliran udara kemudian membawanya ke Pegunungan Alpen, di mana sejumlah besar salju basah turun di dataran tinggi, menyebabkan jalan-jalan tertimbun salju dan meningkatkan risiko longsoran salju.

Apa perbedaan antara cuaca dan iklim?

Perubahan cuaca lokal bisa berbeda dengan perubahan iklim global. Ini kerap menimbulkan kebingungan. Sementara suhu rata-rata telah menghangat ke tingkat yang memecahkan rekor - membuat gelombang panas di kawasan dan kebakaran hutan lebih hebat - perubahan iklim tidak membuat suhu di mana-mana meningkat.

Dalam 20 tahun terakhir, misalnya, musim dingin di banyak daerah dengan garis lintang sedang tidak lebih hangat daripada suhu rata-rata jangka panjang, kata Handorf.

Sistem cuaca yang kompleks seperti polar vortex misalnya, dapat mendinginkan bagian Eropa bahkan saat Kutub Utara menghangat.

Dan meskipun bulan Februari tahun ini mungkin sangat dingin, Januari - dibandingkan dengan suhu rata-rata jangka panjang - mungkin terlalu hangat.

"Meskipun kami tidak selalu melihat pemanasan secara regional atau lokal, kami tidak memiliki tanda-tanda melemahnya pemanasan global," kata Handorf.

"Malah sebaliknya."

Jet stream yang berubah juga memengaruhi suhu musim panas, tambahnya.

"Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kita juga memiliki jet stream yang lebih berkelok-kelok di musim panas. Dan belokan ini, tonjolan ini, cenderung lebih tidak bergerak."

Dengan kata lain, seperti dingin di musim dingin, panas bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama di musim panas.

Jika udara panas Sahara kemudian mencapai Eropa melalui jet stream, seperti yang terjadi pada Juni 2019, misalnya, dapat menyebabkan gelombang panas yang panjang.

Selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan yang terik seperti itu, tampaknya jelas bahwa krisis iklim sedang menimpa kita - tetapi hal yang sama juga berlaku ketika salju turun. (rap/hp)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Carbon Trading Dinilai Jadi Senjata Baru Tekan Emisi di Indonesia

Carbon Trading Dinilai Jadi Senjata Baru Tekan Emisi di Indonesia

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:00 WIB

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:29 WIB

Studi Ungkap Banyak Eksperimen Laut Salah Prediksi Dampak Pemanasan Global, Apa Dampaknya?

Studi Ungkap Banyak Eksperimen Laut Salah Prediksi Dampak Pemanasan Global, Apa Dampaknya?

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:00 WIB

Alarm Bumi! Antartika Mulai Mencair dari Bawah, Ilmuwan Ungkap Ancaman Besar

Alarm Bumi! Antartika Mulai Mencair dari Bawah, Ilmuwan Ungkap Ancaman Besar

News | Kamis, 30 April 2026 | 07:43 WIB

Tak Hanya Baik Untuk Kesehatan, Gaya Hidup Vegetarian Juga Baik Untuk Bumi

Tak Hanya Baik Untuk Kesehatan, Gaya Hidup Vegetarian Juga Baik Untuk Bumi

Lifestyle | Jum'at, 24 April 2026 | 17:55 WIB

Karbon Kehutanan RI Resmi Dijual, Begini Mekanismenya

Karbon Kehutanan RI Resmi Dijual, Begini Mekanismenya

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 12:58 WIB

Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?

Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?

News | Kamis, 09 April 2026 | 11:55 WIB

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:55 WIB

BRI Konsisten Perkuat Operasional Perbankan Hijau dan Tekan Emisi Karbon

BRI Konsisten Perkuat Operasional Perbankan Hijau dan Tekan Emisi Karbon

Bri | Rabu, 01 April 2026 | 14:11 WIB

Sepak Bola Ternyata Sumbang Puluhan Juta Ton Emisi Karbon Tiap Tahun, Bagaimana Menguranginya?

Sepak Bola Ternyata Sumbang Puluhan Juta Ton Emisi Karbon Tiap Tahun, Bagaimana Menguranginya?

News | Rabu, 01 April 2026 | 12:50 WIB

Terkini

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:48 WIB

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:35 WIB

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:54 WIB